Prinsip Ekonomi dan Lemahnya Posisi Konsumen

Apakah Anda pernah menerima SMS iklan operator seluler yang menjanjikan nelpon sepuasnya, kemudian Anda tertarik untuk menggunakannya, namun setelah digunakan ternyata tarifnya sangat mahal. Lalu Anda melakukan komplain ke call center. Dan jawaban yang Anda peroleh adalah nelpon sepuasnya berlaku dari jam 0:00 hingga 6:00. Anda hanya bisa membatin, emang mau nelpon ama pocong?

Atau apakah Anda pernah berjalan-jalan di mall, lalu secara tiba-tiba segerombolan orang dengan pakaian rapih dan berdasi mendekati Anda, lalu mengajak Anda ke suatu tempat, katanya mereka menawarkan survey berhadiah. Setelah Anda ke tempat tersebut, tanpa Anda sadari, Anda telah membeli seperangkat alat dapur murahan.

Lalu bagaimana dengan yang ini, apakah Anda pernah ditawari asuransi untuk mobil Anda, lalu Anda diminta untuk menandatangani polis yang berisi segudang kata-kata asing. Saat pintu mobil Anda tergores, Anda mengajukan klaim, dan ternyata klaim tersebut ditolak dengan alasan asuransi mobil Anda hanya untuk total loss. Anda bertanya apa total loss itu? Si agen pun menjelaskan bahwa Anda hanya akan mendapatkan ganti rugi bila kendaraan Anda rusak total atau kerusakannya di atas 75% dari nilai mobil.

Di jaman yang serba susah ini ada-ada saja tingkah laku para pelaku usaha yang mengecewakan konsumen. Hal ini tak lepas dari prinsip yang selalu dipegang erat oleh para pelaku usaha, yakni dengan pengorbanan yang seminim mungkin memperoleh keuntungan yang maksimal. Terlebih dengan semakin banyaknya pesaing, para pelaku usaha berusaha untuk menekan biaya produksi serendah mungkin. Namun mereka tidak menyadari bahwa menekan biaya produksi dapat menurunkan kualitas produk mereka, yang pada akhirnya akan berimbas kepada konsumen.

Tak jarang pula, pelaku usaha giat dengan berbagai macam promosi. Namun kegiatan promosi tersebut seringkali berisi janji-janji gombal. Janjinya enak di telinga, namun kenyataannya tidak enak di hati. Atau strategi lain yang mereka terapkan adalah dengan membuat klausula baku. Ini sering ditemui di produk perbankan dan asuransi. Konsumen hanya perlu mengisi formulir dan tanda tangan di sini dan di sana. Namun tidak dijelaskan bahwa di balik formulir tersebut terdapat berbagai poin yang sebagian besar isinya dibuat untuk melindungi kepentingan pelaku usaha, tanpa mengindahkan hak-hak konsumen.

Lebih dari itu, Apakah Anda mengetahui bagaimana kerja jaringan seluler atau apakah Anda mengetahui bagaimana proses pembuatan makanan yang Anda santap di restoran? Apakah Anda yakin bahan-bahan yang digunakan sehat, higienis dan aman untuk dikonsumsi? Itulah kelemahan utama konsumen. Konsumen tidak mengetahui bagaimana proses produksi suatu barang, sehingga sangat sulit bagi konsumen untuk membuktikan bahwa kesalahan terletak di posisi pelaku usaha bila terjadi sesuatu yang merugikannya. Untuk itu diperlukan suatu perangkat peraturan yang berfungsi untuk melindungi kepentingan konsumen.

Mari kita belajar bersama untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen Indonesia. Untuk itu mulai hari ini di JurnalHukum.com saya akan menulis artikel-artikel tentang hukum perlindungan konsumen,

Leave a Reply